GAMAD DI BUKIT KARAN




Gamad adalah kesenian musik khas Padang dari pengaruh musik Portugis. Ini dapat dilihat dari alat-alat musik khas Portugis (Eropa) yang dipakai seperti biola, akordion, saksofon, terompet, dan gendang rampak. Hanya saja lagunya sudah khas Padang dengan syair-syair yang penuh ratap dan beriba hati, meski terkadang dinyanyikan dengan lenggang-lenggok.

"Orang-orang Portugis suka berpesta dengan bernyanyi diiringi grup musik di atas kapal, saat itulah orang Minang dan Nias ikut serta, kemampuan menguasai alat musik dan bernyanyi ini kemudian mereka bawa ke darat sebagai cikal bakal gamad," kata Taswir Zubir, Ketua Hikagapa (Himpunan Keluarga Gamad Padang).
Sumber : 
https://groups.google.com/forum/#!topic/rantaunet/kE9Ji3_G9rg

Kalau saya tidak keliru, Gamad ini semakin terkenal pada zaman Yan Juneid lagi top-topnya. Bungo Tanjuang, Sarunai Aceh, Simambang Gunuang, Buayan Buluah dan banyak lagi yang lain yang dinyanyikan Yan Juneid menjadi lagu gamad yang banyak digemari orang. Saya sempat menanyakan kepada Dr. Anatona Gulo. Dosen Sejarah di UNAND mengenai Yan Juned. Beliau menjelaskan kepada saya bahwa Yan Juneid itu ada darah Nias dari Marga Zega. (Wawancara telepon dengan Dr. Anatona Gulö, jam 19.00, 23 Juni 2020)

Keluarga dari Ibunda saya senang musik Gamad. Uncu Olin Zai, adik Ibunda saya adalah pemain biola di Bukit Karan. Nenek Umi Gulö (kami panggil Iyak) senang sekali jika cucu-cucunya mau ikut bermain gamad. Saya sering ambil posisi main gendang atau romba. Main gendang itu cukup melelahkan. Saya ingat kalau orang menyanyikan lagu Bungo Tanjuang, Perak-perak, Lagu Duo dan sebagaiya, gendangnya pelan, santai. Hanya saja setiap selesai satu lagu di atas, setelah itu diringi dengan joged. Waktu giliran joged ini irama pukulan gendangnya harus cepat. Tangan kecil saya harus kencang dan cepat memukul gendang. Di situ saya sering lelah dan tangan saya agak perih, maklum saya masih kecil, usia sekitar 10 tahun (pada tahun 1960-an). Ingin berhenti di tengah permainan, malu dan takut kalau nanti Nenek kecewa.

Nenek juga sering menyuruh saya bernyanyi, misalnya lagu Kaparinyo. Nenek mengajari saya syairnya. Antara lain yang saya ingat, sebagai berikut. Mandi ka Lubuak Mandalian. Udang disangko tali-tali. Buruak untuang jo bagian. Patang disangko pagi hari. Kalau saya perhatikan, seorang penyanyi Gamad ini harus banyak menghafal pantun. Bila si A berpantun waktu bernyanyi, si B yang dapat giliran sesudah si A harus bisa membawa pantun yang "nyambung" dengan syair pantun si B. Demikian yang lebih bagus.

Dalam urusan bernyanyi ini, saya mengalami kesulitan, suara saya tidak kuat nada tinggi. Kalau nada tinggi "bisa tacakiak", kata orang Padang. Tidak enak didengar. Dulu sekitar tahun 60-an belum pakai soundsystem. Bila pakai nada rendah, turun satu oktav, suara tidak terdengar dengan kerasnya gendang. Apalagi kalau pakai tambur. Tambur: Alat Musik Tradisional Berbentuk Gendang Berukuran Besar. Jadi harus nada tinggi supaya terdengar. Di situ indak talok jo ambo.

Sewaktu adinda Yusna mengadakan resepsi pernikahan anaknya pada tahun 2017 di Bukit Karan, saya datang menghadirinya. Rupanya ada Gamad. Musiknya sudah modern, pakai orgen. Saya lihat yang main orgen ananda Mide Vinandra (cucu dari Uncu Olin Zai). Dalam hati saya berkata : "Darah seni Uncu Olin Zai turun juga ke cucunya". Leonardus Waruwu merupakan salah seorang penyanyi gamad dalam kelompok tersebut. Leo demikian panggilan akrabnya, adalah saudara sepupu saya yang juga cucu dari Iyak Umi Gulö.

Di tengah lagi asyik-asyik menikmati musik gamad itu, saya ditarik oleh seseorang dengan menyerahkan sehelai saputangan, diajak menari Gamad. Setelah itu disuruh main gendang. Untung masih ingat. Ada tamu yang bersorak : "Agiah taruih da Sus!". Mendengar suara tersebut, saya tambah semangat.

Tahun 2020 ini banyak pejabat yang naik ke Bukit Karan, antara lain : Walikota, Wawako, Kadin Pariwisata dan Kebudayaan, Camat Padang Selatan, Kapolsek, Anggota DPRD Kota Padang dan lain-lain. Kalau Lurah Rawang, pak Andi Amir, jangan disebut lagi. Sangat sering naik ke Bukit Karan. Masyarakat Bukit Karan bersyukur mulai dibangun aspal dari Jundul ke Bukit Karan. Pembangunan jalan ini dimotori oleh Aciak Amril Amin, Wakil Ketua DPRD Kota Padang dan dapat dukungan penuh dari Pemda dan Instansi terkait. Saya lihat dari Youtube dan Facebook Fanolo Zato, bila ada tamu istimewa naik ke Bukit Karan, selalu dihibur dengan Gamad. Saya bisa menduga bahwa saat peresmian jalan ini nantinya yang menjadi hiburan utama adalah Gamad.
(M Yusuf Sisus Lömbu).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASAL USUL MARGA LÖMBU

KELUARGA BAPAK HA. BIDAWI ZUBIR DI MATA SEORANG PUTRA NIAS

Gubsu Resmikan Masjid Raya Al-Furqon Kota Gunungsitoli