KELUARGA BAPAK HA. BIDAWI ZUBIR DI MATA SEORANG PUTRA NIAS




HUT Perkawinan ke 50 (Kawin Emas) KH. Ahmad Bidawi Zubir dengan Hj. Sumiarty Absyar
Jarang pasangan suami istri yang usia perkawinannya dapat mencapai 50 tahun. Kalau ada yang dapat meliwati 50 tahun, bagi saya pasangan suami istri tersebut adalah pasangan suami istri (pasutri) yang luar biasa. Banyak yang kandas dalam perjalanan. Boleh jadi karena bercerai hidup, atau berpisah karena ajal tiba sebelum usia perkawinan mencapai 50 tahun. Bapak H.A. Bidawi Zubir dan ibu Sumiarty adalah salah satu pasutri yang usia perkawinan mereka dapat mencapai 50 tahun pada tanggal 20 Januari 2017. Apa yang membuat perkawinan ayah bunda dari adinda Herdiansyah, Safriansyah, Ahmad Hamami dan Zulfikri ini tetap langgeng dan harmonis ? Bahwa perkawinan mereka dilandasi iman untuk meraih ridlo Allah, hal itu tidak diragukan lagi. Pada kesempatan ini saya saya menyajikan sesuatu tentang beliau sesuai pengalaman yang saya amati selama ini.


Perlu saya utarakan terlebih dahulu bahwa saya adalah putra Nias kelahiran Padang. Terlahir sebagai seorang animis menyembah berhala. Pada usia 12 tahun saya masuk Islam di Padang. Setelah tamat PGAN 6 Tahun Padang melanjutkan di Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ) Jakarta.
Pada tahun 1976 saya harus keluar dari Asrama PTIQ. Bapak H.A.Bidawi Zubir adalah Dosen saya di PTIQ Jakarta. Mengetahui saya harus keluar dari asrama dan bingung mau kemana karena di Jakarta ini tidak ada sanak famili. Beliau mengatakan kepada saya : “Yusuf tinggallah di rumah bapak saja, Yusuf jadilah anak kami dan menjadi kakak dari anak-anak kami”. Tawaran tersebut tidak saya sia-siakan. Jadilah saya tinggal dirumah beliau Jl.Tebet Timur I A No.3 Tebet Jakarta Selatan.


Berbicara mengenai rumah tangga Bapak H.A.Bidawi Zubir, mantan Kakanwil Depag (sekarang Kemenag) di empat daerah (Maluku, Sumatra Utara, DKI Jakarta dan Sumatera Selatan) ini, paling tidak ada tiga hal yang menarik bagi saya, yaitu :


Pertama ; musyawarah dalam keluarga. Bapak dan ibu sering saya lihat bicara bersama baik di ruang tamu maupun saat di meja makan. Kadang bicara santai kadang serius. Bila bicara serius, tidak terlihat kedua orang tua ini saling mendominasi atau menekan. Bapak suka menawarkan alternatif dan menguraikan positif atau negatifnya. Ibu juga suka bertanya begini “Bagaimana baiknya Uda ?, dengan nada manja. Selama saya bersama mereka belum pernah saya melihat bapak memarahi ibu atau sebaliknya.


Kedua ; Mampu meminimalisir perbedaan antara bapak dan ibu. Misalnya ; sewaktu keduanya masih aktif sebagai mahasisw IAIN  Ciputat Jakarta (sekarang UIN), bapak aktif di PMII sedangkan ibu aktif di HMI. Konon kabarnya kedua organisasi ini bersaing keras, baik dalam mencari anggota baru, dalam program, termasuk juga dalam pemilihan Dewan Mahasiswa. Sampai-sampai hubungan silaturrahim bisa terganggu. Namun apa yang diperlihatkan oleh bapak “yang wong kito Palembang” dan ibu yang “Urang Awak” ini ? Mereka malah menjalin kasih sampai kepelaminan dan bertahan hingga sekarang. Perbedaan latar belakang organisasi, daerah atau budaya justru bagi kedua insan ini mampu mengambil hikmahnya. Tidak melihatnya secara sempit. Sementara itu, pergaulan semakin luas. Tentu saja hal ini bisa dicapai karena kemampuan mereka meminimalisir perbedaan.
Setelah saya berumah tangga saya sering bertanya atau konsultasi kepada bapak atau ibu dalam menghadapi berbagai masalah, baik masalah rumah tangga maupun masalah kantor. Pulang dari rumah beliau perasaan saya menjadi tenang. Wawasan saya menjadi luas dan pulangnya itu membawa solusi.


Ketiga ; Suka menolong. Di atas sudah saya singgung, begitu saya mendapat masalah tempat tingga beliau langsung mengajak saya tinggal di rumah beliau. Ketika itu saya belum bekerja. Itu artinya makan sayapun menjadi tanggungan beliau. Tidak hanya sampai disitu, ketika saya mengutarakan ingin menikah, cepat sekali bapak Bidawi dan ibu Sumiarty menyambut dan mendukungnya, tidak banyak pertanyaan. Misalnya apakah kamu sudah mampu memberi makan keluargamu, gajimu berapa, dan hal-hal lain yang dapat membuat kita mundur. Tidak, itu tidak ditanyakan. Beliau memperlihatkan wajah yang gembira dan hanya bertanya : “Kapan Yusuf ingin menikah”?, saya jawab “Dalam waktu dekat”. “Baik bapak dan ibu mendukung” kata bapak Bidawi memberi semangat kepada saya.


Pada tanggal 17 Maret 1977 saya menikah dengan Noverlemi Paraman di KUA Ciputat dan Walimatul Ursy tanggal 21 Maret 1977 di Aula Madrasah Muhammadiyah Tebet Timur. Orang tua kandung saya sudah tiada maka beliau berdua yang menjadi orang tua atau wali pada saat saya menikah. Ketika itu saya ada sedikit uang untuk acara pernikahan tersebut, kekurangannya ditutupi oleh Bapak Bidawi dan ibu Sumiarty.


Hebatnya lagi sampai kepada anak-anak-anak kami menikah, yang anak-anak kami itu sudah beliau anggap sebagai cucu mereka juga. Bapak H.A.Bidawi Zubir dan Ibu Sumiarty selalu mendampingi dan mendukung kami dalam pelaksanaannya. Subhanallah ! Sungguh kami tidak bisa membalas kebaikan keduanya. Saya berkeyakinan, karena beliau berdua ini suka menolong orang, maka Allah memberi berkah kepada pasangan yang kini sudah memasuki usia Perkawinan Emas.
Selamat Bapak dan Ibu, semoga selalu” Sakinah, Mawaddah Waromah” ! Amiiiin.
( HM Yusuf Sisus, M.Si alias Haogödödö Lömbu )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH SINGKAT MASJID AL-FURQAN GUNUNG SITOLI NIAS

MENGENANG QARI INTERNASIONAL “HAJI MIRWAN BATUBARA”