Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Jum'at berkah, pak Lurah singgah.

Gambar
 

Ulang tahun ke 67 Bu Yusuf (Noverlemi Paraman) isteri tercinta (10 Nop 20)

 

Mie pangsit daging sapi"Warung Papa Dedel". Pesan ya!

 

Mie pangsit daging sapi. Warung Papa Dedel.

Gambar
 

MENGAPA SAYA MASUK ISLAM

Gambar
Nama kecil saya Sisus . Nama Nias saya Haogödödö Lömbu , 10 tahun setelah masuk Islam, Bapak Prof Ibrahim Hosen (Rektor PTIQ waktu itu) menyarankan agar nama saya diganti menjadi Muhammad Yusuf.

ASAL USUL MARGA LÖMBU

Gambar
Ayahanda Buyung Lava Lömbu dan Ibunda Kanaati Zai            Museum Pusaka Nias menyelenggarakan Zoominar Budaya, pada hari Ahad, 28 Juni 2020. Topik : Kenali asal usulmu. Saya selaku orang Nias yang lahir di Padang tertarik untuk mengetahui asal muasal berbagai Marga di Nias. Ayah saya marga Lömbu, yaitu Buyung Lava Lömbu lahir 09 Maret 1915 di Rimbo Panjang dan Ibu saya, Kanaati Zai lahir tahun 1935 di Pasar Usang. Kedua orang tua saya berikut semua anak-anaknya menganut ajaran Animisme, menyembah berhala. Ibu saya meninggal dalam usia muda, 25 tahun, yaitu pada tanggal 05 April 1960, saat itu saya baru kelas I SR. Beliau masih dalam setatus menganut ajaran Animisme. Ayah saya masuk Katholik tahun 1967 dan meninggal tanggal 19 April 1975.  Saat itu saya sedang menyelesaikan Sarjana Muda di Fakultas Ushuluddin Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta.           Kembali ke Zoominar Budaya,  Nara Sumber Utama, yaitu Pastor Johannes M. Hammerle, OFMCap (Pendiri / Ketua Y

SD BINTANG LAUT BUKIT KARAN.

Gambar
SD Bintang Laut didirikan guna meningkatkan kecerdasan anak-anak Karan yang tidak mampu atau tidak mau sekolah ke Teluk Bayur atau Gaung. Apalagi akhir 60-an   itu pemiliki kebun cengkeh di Bukit Karan dan sekitarnya lagi berjaya. Banyak kepeang. Banyak uang karena panen cengkeh. Kalau kondisi tidak sekolah ini dibiarkan, maka generasi penerus di Bukit Karan menjadi generasi yang bu ta huruf. Oleh karena itu didirikan sekolah yang bernama SD Bintang Laut pada tahun 1969 oleh sebuah Yayasan milik Katholik. Guru SD Bintang laut yang senior adalah Cianik Martha Malini Gea, isteri Kristian Zalukhu Maagdenberg (Bung Kres) kemudian disusul Maria Yusni, atau lebih dikenal dengan panggilan Giok. Giok ini adik Bung Kres. Dalam perjalanannya guru ditambah yaitu : Arwan Zebua dan Yohanes. Kakanda Tawanto Dawölö sempat juga mengajar di SD Bintang Laut, sekalipun hanya sebentar. Para guru yang mengabdi di SD Bintang Laut ini dapat dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa. Warga Bukit Karan menguc

WISATA BUKIT KARAN

Gambar
Saat ini sedang dibangun jalan aspal dari Jundul ke Bukit Karan. Pembangunan jalan aspal ini dimotori oleh Aciak Amril Amin dan didukung penuh oleh Pemda Kota Padang serta Instansi terkait. Aciak Amril Amin adalah putra Teluk Bayur yang kini menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Padang. Insya Allah jalan ini akan diresmikan 25 Desember 2020. Sejak tahun 1950-an keluarga kami tinggal di Karan, setengan abad lebih harus jalan kaki sekitar 1 sampai 2KM melewati lereng bukit bila pergi   menuju Teluk Bayur atau ke Gaung. Memang ada hikmahnya, badan sehat dan kuat. Olah raga tiap hari. Namun kasihan dengan warga yang sudah gaek (sepuh). Indak talok mandaki, sasak angok (tidak kuat mendaki, sesak nafas). Sepuluh tahun terakhir ada kemajuan, dibangun jalan cor yang bisa dilewati motor / ojek dari Jundul ke Bukit Karan. Sewaktu saya mengunjungi adik saya Yusna pada tahun 2017, saya dibonceng naik motor oleh anaknya. Terus terang saya tidak sanggup lagi jalan kaki naik ke Bukit Karan karena

GAMAD DI BUKIT KARAN

Gambar
Gamad adalah kesenian musik khas Padang dari pengaruh musik Portugis. Ini dapat dilihat dari alat-alat musik khas Portugis (Eropa) yang dipakai seperti biola, akordion, saksofon, terompet, dan gendang rampak. Hanya saja lagunya sudah khas Padang dengan syair-syair yang penuh ratap dan beriba hati, meski terkadang dinyanyikan dengan lenggang-lenggok. "Orang-orang Po rtugis suka berpesta dengan bernyanyi diiringi grup musik di atas kapal, saat itulah orang Minang dan Nias ikut serta, kemampuan menguasai alat musik dan bernyanyi ini kemudian mereka bawa ke darat sebagai cikal bakal gamad," kata Taswir Zubir, Ketua Hikagapa (Himpunan Keluarga Gamad Padang). Sumber :  https://groups.google.com/forum/#!topic/rantaunet/kE9Ji3_G9rg Kalau saya tidak keliru, Gamad ini semakin terkenal pada zaman Yan Juneid lagi top-topnya. Bungo Tanjuang, Sarunai Aceh, Simambang Gunuang, Buayan Buluah dan banyak lagi yang lain yang dinyanyikan Yan Juneid menjadi lagu gamad yang banyak di

NOSTALGIA BUKIT KARAN

Gambar
Ibunda memberitahu bahwa saya akan disekolahkan masuk Sekolah Rakyat di Teluk Bayur. Kata Angah, itu panggilan kami anak-anak pada beliau, saya harus mau berjualan hasil kebon untuk uang jajan sekolah. Saya senang saja disuruh jualan, yang penting saya bisa sekolah. Saya masuk Sekolah Rakyat tahun 1959. Angah tidak sampai setahun melihat saya pergi sekolah, beliau meninggal dunia dalam usia muda pada tahun 1959. Adik bungsu saya, Eddy baru berusia setahu n, masih menyusu dengan Angah. Setelah Angah meninggal, saya dan dua adik saya tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak Angah. Pada tahun pertama saya sekolah di SR No. 16 Teluk Bayur, diterapkan aturan belajar, sebulan masuk pagi, sebulan masuk siang. Pada waktu sekolah masuk pagi, siangnya saya jualan hasil kebon ke Teluk Bayur. Pada waktu sekolah masuk siang, saya jualan di Pasar Gaung. Hasil kebon yang saya jual adalah singkong dan daunnya serta pisang dan juga daun pisang. Tanaman di kebon kami itu tidak banyak jenisnya.

BUKIT KARAN BIKIN PENASARAN

Gambar
Beberapa hari terakhir ini saya banyak membaca berita tentang Bukit Karan. Bukit Karan ini sebuah desa kecil di pebukitan, merupakan bagian dari Wilayah Kelurahan Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Saya betul-betul penasaran, ingin tahu mau diapakan Bukit Karan? Orang tua kami tinggal di Bukit Karan sejak tahun 1950-an. Saya tinggal di sana sejak saya berusia setahun sampai tamat Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1964. Sebelumnya kami tinggal di Parupuk, Tabing, Padang. Selama enam tahun saya jalan kaki sejauh kurang lebih 2KM dari Bukit Karan ke sekolah di Teluk Bayur. Pada tahun 1965 saya pindah ke Teluk Bayur. Enam tahun kemudian saya ke Jakarta dan kini tinggal di Serpong, Tangerang Selatan. Saya terakhir pulang ke Padang tahun 2017 menghadiri Reuni Alumni PGAN 6 Tahun Padang. Saya sempatkan naik ke Bukit Karan melihat keluarga. Tidak seperti dulu lagi, ada sedikit kemajuan. Tidak harus jalan kaki, tetapi naik ojek sudah bisa sampai ke rumah keluarga di Bukit Karan