MENGAPA SAYA MASUK ISLAM

Nama kecil saya Sisus. Nama Nias saya Haogododo Lombu, 10 tahun setelah masuk Islam, atas saran Prof Ibrahim Hosen (Rektor PTIQ waktu itu) menyarankan agar nama saya diganti menjadi Muhammad Yusuf.

Saya setuju dan setelah penggantian nama ini saya urus ke Departemen Kehakiman, nama saya selengkapnya Muhammad Yusuf Sisus.

Saya bersyukur kepada Allah yang telah berkenan memberi hidayah kepada saya, sehingga yang tadinya saya menyembah berhala (animis), hari Kamis 31 Desember 1964 di KUA Jati Padang, saya masuk Islam dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Guru agama saya waktu itu ibu Hj Siti Ramani, semoga Alah memberi Rahmat pada beliau. Beliaulah yang membimbing saya dan mengantar saya ke KUA Jati Padang.

Saya heran juga, mengapa saya begitu berani mengambil keputusan berpindah agama ketika itu. Saya sendiri saat itu baru berusia 13 tahun, duduk di kelas enam Sekolah Rakyat Nomor 16 Teluk Bayur, Padang. Saya tidak berfikir panjang apa akibatnya bila diketahui keluarga. Tapi yang jelas, setelah masuk Islam, hari itu juga saya meninggalkan rumah orang tua saya di Bukit Karan, Rawang II, Kecamatan Seberang Padang, Kodia Padang. Saya tinggal di rumah bapak Adel Mahyuddin, semoga beliau dirahmati Allah. Tidak lama kemudian, karena ingin dekat dengan rumah bapak Marsudin (guru ngaji saya), saya pindah di rumah bapak Idris Suki di Asrama Jawatan Pelabuhan Teluk Bayur. Dalam perjalannya, sempat saya tinggal di mesjid Muhammdiyah Teluk Bayur, lalu terakhir di rumah ibu Khadijah Zakaria. Semoga semua orang yang pernah menolong saya di Teluk Bayur dulu, diterima amalnya, diampuni dosanya dan mendapat pahala berlipat ganda dari Allah SWT.

Agak sulit bagi saya mengisahkan mengapa saya masuk Islam. Yang jelas ada dorongan yang kuat dalam hati untuk meninggalkan "agama asli" orang tua saya berpindah ke Islam. Lingkungan saya mayoritas muslim. Sewaktu di Sekolah Rakyat, guru agama Islam yang mengajar kami, mempersilahkan saya memilih, boleh keluar klas boleh juga tetap mengikuti pelajaran agama. Saya pilih tetap dalam klas. Bapak Syamsul Hidayat, guru agama waktu saya klas III, pintar sekali bercerita, terutama cerita Nabi-nabi. Kisah Nabi Ibrahim as yang menghancurkan berhala sangat terkesan bagi saya. Berhala itu, manusia yang membuatnya. Alangkah bodohnya kalau berhala itu kita sembah.

Selanjutnya saya tertarik melihat orang yang berwudhu sebelum shalat. Dia membersihkan dirinya, tentu akan sangat bagus untuk memelihara kesehatannya. Karena kebersihan pangkal kesehatan. Puncaknya adalah ketika ibu Siti Ramani, guru agama kami di klas VI menceritakan Kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Bagian yang mengesankan saya adalah ketika Rasul melihat orang memukul kepalanya sampai pecah dan kepala itu utuh lagi dan dipukul lagi oleh yang bersangkutan. Menurut ibu Siti Ramanai, ketika Nabi Muhammad SAWbertanya kepada Malaikat Jibril, dijelaskan bahwa orang itu adalah umat Nabi Muhammad SAW yang enggan mendirikan shalat, nanti dia menyesal dan memukul kepalanya sendiri. Dalam hati saya berkata: "Saya nanti tidak mau memukul kepala saya sendiri. Lebih baik saya shalat". Tapi bagaimana saya shalat, saya sendiri bukan muslim. hari itu juga saya menghadap ibu Siti Ramani, saya nyatakan keinginan saya masuk Islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH SINGKAT MASJID AL-FURQAN GUNUNG SITOLI NIAS

MENGENANG QARI INTERNASIONAL “HAJI MIRWAN BATUBARA”