DARI BUKIT KARAN KE SERPONG

Berdiri : Eddy Anshori dan M Yusuf Sisus. Duduk : Ingin, Yusna dan Lusia         




            Dengan kemajuan teknologi komunikasi, saya bisa menelpon adik-adik saya di Padang bila saya kangen dengan mereka. Seperti yang saya lakukan hari ini (Ahad, 13 Mei 218) saya bicara panjang lebar dengan adik saya yang nomer dua, Yusna. Adik saya yang masih hidup saat ini ada empat orang, yaitu : Yusna, Eddy, Ingin dan Lusia. Meninggal tiga orang, yaitu : Uwin, Kamba Rami dan Kamba Ati. Saat ini saya tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.

Masa Kecil.
      Ayah bunda saya orang Nias kelahiran Padang. Ayah bernama Buyung Lava Lömbu, lahir di Rimbo Kaluang - Padang dan ibu bernama  Upik Zai alias Kanaati Zai, lahir di Pasar Usang. Kakek   saya (ayah dari ayah) bernama Suwökhi Lömbu berasal dari Sogaeadu, Kecamatan Gidö, Gunung Sitoli Nias. Kakek dan nenek dari pihak ibu saya, keturunan Nias yang lahir di Padang. Saya lahir 11 Oktober 1952 di Parupuk, Tabing, Padang. Nama kecil saya Sisus dan nama ini saya pakai sampai saya masuk kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). Ketika saya berusia lima tahun, ada keluarga yang memberi nama khas Nias, yaitu Haogödödö Lömbu. Haogödödö artinya perbaiki hati. Sewaktu saya kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) di Jakarta, bapak Rektor Prof. KH. Ibrahim Hosen meminta agar nama Sisus diganti dengan Muhammad Yusuf. Saya setuju, tetapi nama Sisus tetap melekat, maka nama saya menjadi Muhammad Yusuf Sisus alias HaogödöLömbu.

         Adik yang satu ibu satu ayah dengan saya  ada tiga orang, Uwin, Yusna dan Eddy. Uwin lahir tahun 1954 meninggal dunia pada usia empat tahun di Bukit Karan. Yusna lahir tahun 1957 dan Eddy lahir tahun 1959. Adik saya Eddy juga punya nama Nias, yaitu Sökhiatulö, artinya bagus yang lurus. Ibu saya meninggal tahun 1959, saat itu saya masih duduk di bangku Klas I Sekolah Rakyat. Adik saya Eddy masih menyusu dengan ibu, usianya belum setahun saat ibu meninggal.  Sekitar tujuh tahun kemudian, tahun 1966 ayah menikah dengan ibu Sopan Dohare, keturunan Nias yang lahir di Pasar Usang. Dengan ibu sambung ini ada empat adik saya, namun yang hidup saat ini dua orang, yaitu : Ingin lahir 29 Juli 1968 dan Lusia lahir 20 Oktober 1970. Lusia ini lahir kembar tiga, merupakan keluarga pertama yang lahir kembar tiga di Bukit Karan. Namun dua kembarannya, semuanya perempuan, meninggal dunia beberapa hari setelah lahir. Ayah saya meninggal 19 April 1975 di Bukit Karan, Padang.

        Sewaktu saya berusia setahun, kami pindah dari Tabing ke Bukit Karan, Rawang Kecamatan Padang Selatan. Setahu saya mayoritas penduduk yang tinggal di Bukit Karan adalah orang Nias. Mereka beragama Kristen Protestan dan sebagian kecil ada yang Kristen Katolik. Mata pencaharian utama bertani. Sebagian lainnya bekerja sebagai kuli di Pelabuhan Teluk Bayur. Ayah saya selain bertani, beliau juga tercatat pegawai Jawatan Pelabuhan Teluk Bayur. Ayah mendapat pensiun dan sekarang masih diterima oleh ibu Sopan.

        Suatu hari ayah mengatakan kepada saya, bahwa saya akan masuk Sekolah Rakyat Negeri No. 16 di Teluk Bayur. Tapi ada syaratnya, yaitu untuk uang jajan, saya harus berjualan hasil kebun, seperti ketela singkong, pisang dan sayuran di pasar. Hal itu saya sanggupi asal sekolah. Saya masuk SR tahun 1959. Seingat saya, dulu itu sebulan masuk pagi sebulan masuk siang, berlangsung secara bergantian. Bila sekolah masuk pagi, saya berjualan di Teluk Bayur. Bila sekolah masuk siang, saya berjualan di Gaung. Berjualan hasil kebun ini saya jalani selama lima tahun, yaitu sampai klas V SR.

       Sebagai seorang yang masih anak-anak, saya juga bermain dengan teman-teman sebaya. Permainan yang saya suka antara lain, main layangan, main gundu dan lain-lain. Saya sendiri pandai membuat layangan yang berbentuk segi empat, di Padang disebut layang-layang “maco” dan layangan yang memakai ekor panjang, yang dikenal dengan nama layang-layang “darek”. Layang-layang darek ini bila sudah terbang tinggi, dia melenggang-lenggok di udara, enak dilihat. Saat yang baik bermain layangan adalah siang hari sampai sore.


Masuk Islam.

         Semenjak ibunda saya  meninggal tahun 1959, enam tahun lamanya saya tinggal bersama nenek Umi Gulö dan kakek Maun Zai, orang tua dari ibunda saya. Di saat usia saya 12 tahun, waktu itu saya sudah kelas VI SR, pada hari Kamis 31 Desember 1964 saya masuk Islam. Keinginan masuk Islam saya rahasiakan baik kepada ayahanda maupun kepada kakek dan nenek saya. Takut tidak diijinkan.  Saya pergi bersama guru agama saya ibu Siti Ramani ke Kantor Urusan Agama (KUA) di Jati Padang, kira-kira 8 KM jaraknya di Bukit Karan.  Saya ditemani  saudara sepupu, Seli Waruwu. Kami diterima pak Oejoen, petugas KUA dan saya dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.


Tinggal di Teluk Bayur.


         Usai acara pengislaman, saya kembali ke rumah kakek mengambil pakaian sehari-hari dan buku sekolah, lalu saya pergi ke rumah Adimar, teman sekolah yang mengajar saya shalat. Ayahnya bernama bapak Adel Mahyudin, pegawai Jawatan Kereta Api di Teluk Bayur. Sebulan lebih saya di sini, dari Ramadhan sampai ‘Idul Fithri 1384H.

        Karena ingin lebih dekat dengan rumah guru mengaji Ustadz Marsudin, saya pindah ke rumah teman saya yang lain, yaitu Irmansyah, anak dari bapak Idris Suki di Asrama Jawatan Pelabuhan Teluk Bayur yang terletak dekat jalan menuju Air Manis. Baik Adimar maupun Irmansyah, kami satu kelas di SR No. 16 Teluk Bayur. Beberapa bulan saya di sini, kemudian pindah ke Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur.

        Suatu hari ayah datang menemui saya di Masjid. Saya takut kalau beliau memarahi saya karena masuk Islam. Tetapi tidak. Malah beliau menyerahkan kain sarung untuk saya gunakan shalat. Alhamdulillah.  Beliau ketika itu masih seorang animis. Tiga tahun kemudian setelah saya masuk Islam, tahun 1967 ayah bersama keluarga besar lainnya masuk Kristen Katolik.


Mendalami Islam.

        Tamat Sekolah Rakyat (SR) saya masuk Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 6 Tahun Padang. Biaya sekolah dan makan sehari-hari  selama enam tahun saya di PGAN ditanggung Muhammadiyah dan Aisyiah Teluk Bayur. Saya sangat berutang budi dengan masyarakat muslim Teluk Bayur, khususnya yang tergabung dalam organisasi Muhammadiyah dan Aisyiah Teluk Bayur, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu di sini. Sehingga saya ini disebut anak Muhammadiyah dan Aisyiah. 
       
        Biaya sekolah dan pakaian diusahakan oleh bapak-bapak Muhammadiyah. Bapak A Kasim, beliau Ketua Muhammdiyah saat itu, paling rajin mengumpulkan infak untuk biaya sekolah dan pakaian saya. Adapun makan sehari-hari ditanggung secara bergilir oleh ibu-ibu Aisyiah. Misalnya bulan Januari saya makan di rumah ibu Darimin, bulan Pebruari di rumah ibu Jani Bonjol, bulan Maret di rumah ibu Yunibar, bulan April di rumah Aci Jalinus, bulan Mei di rumah ibu Jani Amir, dan seterusnya di tempat ibu-ibu lain secara bergantian.

        Sejak kelas I sampai klas V PGAN saya tinggal di Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur. Masuk kelas terakhir atau klas VI PGAN saya tinggal di rumah ibu Khadijah Zakaria, ibunda dari taci Syafiyeti Rasyad dan Lailawati Rasyad.  Saya dan Lailawati Rasyad sama-sama kelas VI PGAN sehingga kami bisa belajar bersama untuk menghadapi ujian akhir. Rumah ibu Khadijah Zakaria tidak jauh dari Masjid, hanya berjarak kira-kira 50 meter. Semenjak tinggal di  ibu Khadijah, makan saya tidak lagi pindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

       Tamat PGAN 6 Tahun Padang pada tahun 1971, saya kuliah di Fakultas Tarbiyah, Jurusan Bahasa Arab, IAIN Imam Bonjol Padang. Tetapi tidak lama di IAIN, hanya sebulan. Saya diajak oleh Ilham Chaliq Lukman, senior saya di PGAN yang sudah terlebih dahulu berangkat ke Jakarta, agar saya pindah ke Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta. Saya ikut test di Padang. Satu orang yang lulus test akan menjadi mahasiswa PTIQ utusan Propinsi Sumatera Barat. Yang terpilih Asmini, saya tidak. Ilham Chaliq Lukman menyarankan agar saya tetap ke Jakarta. Bapak Bachtiar Ilyas yang kala itu berdinas di Depag Sumatera Barat memberikan dukungan agar saya ke Jakarta. Alhamdulillah saya diterima kuliah di PTIQ Jakarta. Saya berhasil menyelesaikan sampai tingkat Sarjana Muda dengan gelar BA. Kuliah di PTIQ bagi saya sangat berat terutama menghafal Al-Qur'an. Akhirnya tahun 1976, Pimpinan PTIQ mempersilahkan saya melanjutkan ke Perguruan Tinggi lain.

      Sebelum melanjutkan kuliah, saya bekerja di Perpustakaan Islam dari tahun 1976 - 1979. Tanggal 01 Juni 1979 saya diterima bekerja di Perum Astek (berganti nama menjadi PT Astek, PT Jamsostek, sekarang BPJS Ketenagakerjaan). Tahun 1993 saya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammadiyah Jambi. Selesai S1 pada tahun 1995. Tahun 1996 saya dipindahkan ke Kantor Pusat PT Jamsostek. Pada tahun 1996 itu juga Perusahaan memberikan bea siswa kepada beberapa orang karyawan, termasuk saya,  untuk kuliah Universitas Indonesia, Program Pascasarjana. Saya mengambil Jurusan Administrasi Publik dan selesai tahun 1998 dengan gelar M.Si.


29 tahun di PT Jamsostek (Persero).

         Bertepatan dengan kelahiran Ulfah Yusuf, anak pertama pada tanggal 01 Juni 1979, terhitung tanggal yang sama saya diterima bekerja di Perum Astek dan ditempatkan di Bagian Humas. Waktu itu kami tinggal di Cempaka Putih. Selama tiga tahun sebelum menjadi karyawan Perum Astek, saya bekerja di Perpustakaan Islam di Kebayoran Baru. Selain itu, saya mengajar Al-Qur'an untuk anak-anak di Masjid Al-Huda Cempaka Putih Tengah.

        Sekitar lima tahun saya di Bagian Humas, kemudian tahun 1984 dipindahkan ke Kantor Cabang DKI Jakarta. Dua tahun kemudian dipindahkan ke Biro Humas. Hanya berlangsung dua bulan, saya dipindahkan ke Divisi Operasi Wilayah II dari tahun 1986 sampai 1989. Lalu dipindahkan ke Pekalongan menjabat Kepala Cabang. Saya bertugas di kota Batik ini dari tahun 1989 sampai 1991. Dari Tahun 1991 sampai 1993 dapat amanah sebagai Kepala Cabang di Solo. Dari Solo pindah ke Jambi tahun 1993. Di Jambi ini saya bekerja sambil kuliah pada sore hari di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammadiyah Jambi. Dua tahun di Jambi, lalu dimutasi ke Biro Litbang Kantor Pusat.
Terulang lagi bekerja sambil kuliah di Universitas Indonesia. Tahun 1998 sampai 2001 diberi kepercayaan memimpin Kantor Cabang Setiabudi. Kemudian masuk Pusat pada tahun 2001 sampai 2004 menjadi Kepala Biro Perlengkapan dan Sarana. Empat tahun menjelang pensiun diberi amanah menjadi Direktur Utama Dana Pensiun Karyawan Jamsostek. 01 Nopember 2008 pensiun.


Kegiatan setelah pensiun.

        Tahun 2007 saya dapat kesempatan mengajar di dua Perguruan Tinggi Swasta, yaitu di Institut PTIQ Jakarta dan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Di Institut PTIQ mengajar Ilmu Dakwah sedang diUAI mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Kegiatan mengajar dengan status Dosen Tidak Tetap ini sudah berjalan 10 tahun. Selain itu, aktif di Biro Perjalanan Umroh PT As-Salam Mulya Al-Haromain di Jakarta. Alhamdulillah masih ada kegiatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH SINGKAT MASJID AL-FURQAN GUNUNG SITOLI NIAS

MENGENANG QARI INTERNASIONAL “HAJI MIRWAN BATUBARA”