Cerita Nabi Ibrahim Membuatnya Memeluk Islam

Illustrasi : Makam Nabi Ibrahim as




REPUBLIKA.CO.ID,  Kisah Nabi Ibrahim dalam menyebarkan Dienul Islam di Tanah Arab, membuka hati seorang Yusuf Sisus Lombu untuk memeluk Islam. Pria kelahiran Padang, 11 Oktober 1952 ini, merupakan keturunan Nias asal Sogaeadu, Kecamatan Gido. Tinggal di Teluk Bayur, Padang merupakan pilihan dari kedua orang tuanya yang melakukan perantauan meninggalkan kampung halaman.

Nama Yusuf sebetulnya bukan nama lahir yang diberikan kedua orang tua yaitu Upik Zai dan B Lava Lombu. Saat kecil, orang tuanya memberikan nama Sisus dan ini dipakai di sekolah. Kemudian ada nama untuk menyembah berhala (Aju-aju) yaitu Haogododo Lombu yanng artinya dalam bahasa Indonesia adalah 'Baguskan Hati' atau 'Hati Yang Baik'. Kedua orang tuanya berkeyakinan Pelbegu, Animis.

Lahir di daerah perantauan, Yusuf Sisus Lombu harus hidup di tengah mayoritas kaum Muslim. Lingkungan rumah dan sekolah tidak memberikan perbedaan bagi keluarganya untuk bisa hidup baik dan bertetangga. Aktivitas keseharianya seperti yang dilalui setiap anak pada umumnya, walaupun dirinya harus berbeda keyakinan dengan teman-teman serta lingkungan.

Dalam masa pendidikan, Sisus menimba ilmu di Sekolah Rakyat pada 1959. Tahun pertama, Sisus ditimpa kesedihan karena ibunda tercinta meninggal dunia. Kepergian seorang ibu yang mencintainya membuat Sisus pindah rumah. Sisus tinggal bersama kakek (Maun Zai) dan nenek saya (Umi Gulö) sampai saya masuk Islam (Klas VI SR)

Tepat di usia 11 pada tahun 1962, Yusuf Sisus Lombu mulai terbuka hati untuk mengenal Islam atas cerita pada Nabi yang diajarkan oleh guru dalam mata pelajaran agama Islam. Pelajaran ini, seharusnya tidak boleh diikutinya. Namun, dirinya selalu bertahan dalam kelas setiap ada pelajaran Islam bersama dengan siswa lainya.

Pada saat duduk di bangku kelas III, guru Agama Islam bernama Syamsul Hidayat yang menerangkan kisah Nabi Ibrahim as menghancurkan patung berhala, Tuhan bagi orang-orang Arab menjadi pertayaan dengan keyakinanya. Kisah Nabi Ibrahim tersebut betul-betul membuka mata hatinya karena kedua orang tuanya sama dengan kisah tersebut merupakan penyembah berhala.

“Keluarga saya, termasuk saya sendiri adalah penganut agama Pelbegu (animis) yang menyembah berhala. Kisah Nabi Ibrahim as tersebut betul-betul membuka mata hati saya. Mengapa saya harus menyembah berhala? Ini keliru," kata Yusuf Sisus Lombu seorang muallaf yang sekarang menjadi Komisaris salah satu Travel Haji dan Umrah didampingi Diretur Program Rumah Infaq Syukur Sudahi Hulu SE dan sejumlah penguru Rumah Infaq lainnya. 

Dari sinilah perubahan mulai dilakukanya. Dengan belajar Islam dari hal yang paling dasar yaitu berwudhu. Dalam melaksanakan shalat yang merupakan kewajiban bagi seorang Muslim, maka terlebih dahulu diwajibkan untuk berwudhu. Dia melihat teman-temanya yang shalat dan mempraktikkanya sendiri bagaimana cara dan apa yang harus dilakukan ketika berwudhu

Perubahan inilah membuat Kakek dan nenek kaget. Mereka tidak percaya seorang cucu yang mereka besarkan malah bertingkah aneh. Teguran pun dilontarkan oleh para saudara. Namun, itu tidak melemahkan apa yang ingin diyakininya benar. Hingga lambat laun, mereka dapat menerima keputusan Sisus untuk meninggalkan agama para leluhurnya.

“Kakek, nenek, dan saudara kaget melihat saya tertarik Islam. Mereka melarang saya belajar wudhu sebagaimana teman-teman saya sebelum shalat, mereka harus berwudhu. Wudhu itu membersihkan tangan, muka, kepala dan kaki. Wah, wudhu ini bagus, karena membersihkan anggota tubuh. Kebersihan pangkal kesehatan," ucapnya.

Karenan itu, Yusuf terus mempelajari dasar-dasar Islam lebih dari dua tahun. Anak sulung dari empat bersaudara ini, saat berusia 12 tahun memasuki kelas VI. Pelajaran agama Islam terus diikuti hingga mendapatkan pelajaran mengenai perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammas SAW. Cerita ini yang memantapkan niat untuk memeluk agama Islam dan pada Kamis (31/12/1964), dia mengucapkan dua kalimat Syahadat.

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Mi’rajnya melihat orang yang memukul-mukul kepalanya. Nabi SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : “Itu siapa?” Jibril menjawab : Orang itu adalah umatmu yang tidak mau shalat. Dia menyesal tidak mau sujud kepada Sang Pencipta, sehingga ia memukul-mukul kepalanya.

“Saat itu saya takut sekali. Saya selama ini tidak pernah shalat. Saya ingin shalat, tetapi saya belum masuk Islam. Akhirnya saya menyampaikan kepada guru Agama bahwa saya ingin masuk Islam. Alhamdulillah saya dengan terbata-batanya mengucapkan : “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah," tandasnya.  By Agus Yulianto. (Bersambung)


Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/17/06/01/oquzio396-cerita-nabi-ibrahim-membuatnya-memeluk-islam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENANG QARI INTERNASIONAL “HAJI MIRWAN BATUBARA”

SEJARAH SINGKAT MASJID AL-FURQAN GUNUNG SITOLI NIAS