Berpisah dengan Orang Tua dan Mengamalkan Ajaran Islam

M Yusuf Sisus Lombu dan Noverlemi Paraman




REPUBLIKA.CO.ID,  Perbedaan keyakinan dengan orang tua penyembah berhala dan sebagian keluarga menganut agama Kristen, menjadi persoalan baru dalam hidup seorang muallaf dalam sebuah keluarga. Beginilah yang harus dihadapi oleh Yusuf Sisus Lombu. Yusuf adalah nama baru yang diberikan kepadanya setelah dirinya mengucapkan dua kalimat Syahadat. Niat mantapnya mengamalkan Islam memulai babak baru sebagai seorang Muslim sejati.

Nama Haogododo Lombu yang diberikan kedua orang tuanya, karena nama itu biasa digunakan saat menyembah Aju-aju, maka nama tersebut tidak dipakai di sekolah. Dalam ijazah SR dan PGAN, namanya hanya menggunakan “Sisus”. Kemudian untuk nama Islamnya, ia mengurus pergantian nama di Departemen Kehakiman menjadi “Muhammad Yusuf Sisus”. Sehingga dalam ijazah sarjana muda, S1, dan S2  menggunakan nama Islamnya.

Tekad yang kuat sebagai seorang muslim dilakukanya dengan memisahkan diri untuk hidup satu rumah dengan orang tua dan saudara. Pilihan ini dilakukan agar menghindari kebiasaan keluarga memakan babi yang merupakan binatang haram dalam agama Islam.

“Saya harus berpisah dengan kedua orang tua dan saudara. Bila tinggal satu atap, maka tidak mungkin karena keluarga memakan babi yang diharamkan. Makanya, saya meninggalkan rumah untuk mengamalkan Islam yang lebih kaffah," ucap Yusuf seperti dilansir 'Majalah Membangun' yang diterbitkan Rumah Infaq, belum lama ini.

Memisahkan diri dari keluarga dan tinggal di kediaman orang-orang muslim bukan berarti memutuskan hubungan darah dengan kedua orang tua dan para saudara. Walaupun keluarga pada mulanya kaget dengan Yusuf masuk Islam ini, namun bukanlah sesuatu hambatan besar dalam hubungan bersaudara, malah menunjukkan kemulian dan keindahan Islam dari apa yang telah didapatkan selama belajar di sekolah.

"Awalnya, saya tinggal di rumah keluarga bapak Adel Mahyuddin, kemudian pindah ke rumah keluarga bapak Idris Suki yang lebih dekat dengan tempat belajar Alquran. Mereka sangat senang mengetahui saya telah menjadi seorang Muslim. Teman-teman muslim dan keluarganya malah saling menawarkan kepada saya untuk tinggal di tempat mereka. Dari sinilah saya mulai belajar dan membaca Alquran," kata dia.

Sebuah nasehat besar yang membuat hati ini semangat belajar Islam. Filosofi buah manggis yang hitam di dalamnya putih dan rasanya enak. Buah manggis bila dimakan tanpa dikupas kulitnya, rasanya tidak enak dan pahit. Tapi setelah dikupas, akan terlihat isinya yang putih, bersih dan bila dimakan rasanya enak serta manis. Demikian juga agama Islam, harus dikupas, dipelajari, didalami dan diamalkan, baru terasa nikmat.

“Dorongan dari filisofi ini yang membuat saya makin semangat untuk belajar Islam. Bila hanya sekedar mendengar tanpa mempelajari dan mengamalkanya maka akan sia-sia. Islam sebagai pedoman hidup harus dipelajari, diamalkan dan didalami," tutur Yusuf.

Berbagai kemudahan diberikan Allah SWT. Bantuan kaum muslimin datang silih berganti mulai dari sekolah, kehidupan sehari-hari hingga mendapatkan jodoh. Hidup mandiri sebagai seorang Muslim tanpa bantuan keluarga, bukan berarti tidak bisa untuk meraih kesuksesan. 

"Saya yakin telah memilih agama yang benar. Islam ini agama dari Allah. Kalau Pelbegu adalah agama yang berasal dari nenek moyang. Jadi, pasti agama yang dari sang Pencipta yang paling tepat bagi saya, dan sebenarnya juga bagi seluruh manusia ini. Karena semua manusia ini adalah ciptaan Allah. Allah yang paling mengetahui agama yang tepat untuk manusia," imbuhnya. 
By Agus Yulianto (Bersambung)

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/17/06/01/oquzpm396-berpisah-dengan-orang-tua-dan-mengamalkan-ajaran-islam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH SINGKAT MASJID AL-FURQAN GUNUNG SITOLI NIAS

MENGENANG QARI INTERNASIONAL “HAJI MIRWAN BATUBARA”

PEMBANGUNAN MASJID RAYA AL-FURQAN GUNUNG SITOLI HAMPIR SELESAI.