SAYA BERSYUKUR MENJADI SEORANG MUSLIM


Muhammad Yusuf Sisus































Masa Kecilku.
        
        Ayah bunda saya orang Nias kelahiran Padang. Ayah bernama Buyung Lava Lömbu, lahir di Rimbo Kaluang, Padang dan ibu bernama  Upik Zai alias Kanaati Zai, lahir di Pasar Usang. Kakek   saya (ayah dari ayah) bernama Suwökhi Lömbu berasal dari Sogaeadu, Kecamatan Gidö, Gunung Sitoli Nias. Kakek dan nenek dari pihak ibu saya, keturunan Nias yang lahir di Padang. Saya lahir 11 Oktober 1952 di Parupuk, Tabing, Padang. Nama kecil saya Sisus dan nama ini saya pakai sampai saya masuk kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). Ketika saya berusia lima tahun, ada keluarga yang memberi nama khas Nias, yaitu Haogödödö Lömbu. Haogödödö artinya perbaiki hati. Sewaktu saya kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) di Jakarta, bapak Rektor Prof. KH. Ibrahim Hosen meminta agar nama Sisus diganti dengan Muhammad Yusuf. Saya setuju, tetapi nama Sisus tetap melekat, maka nama saya menjadi Muhammad Yusuf Sisus alias Haogödö Lömbu.

         Adik yang satu ibu satu ayah dengan saya  ada tiga orang, Uwin, Yusna dan Eddy. Uwin lahir tahun 1954 meninggal dunia pada usia empat tahun di Bukit Karan. Yusna lahir tahun 1957 dan Eddy lahir tahun 1959. Adik saya Eddy juga punya nama Nias, yaitu Sökhiatulö, artinya bagus yang lurus. Ibu saya meninggal tahun 1959, saat itu saya masih duduk di bangku Klas I Sekolah Rakyat. Adik saya Eddy masih menyusu dengan ibu, usianya belum setahun saat ibu meninggal.  Sekitar tujuh tahun kemudian, tahun 1966 ayah menikah dengan ibu Sopan Dohare, keturunan Nias yang lahir di Pasar Usang. Dengan ibu sambung ini ada empat adik saya, namun yang hidup saat ini dua orang, yaitu : Ingin lahir 29 Juli 1968 dan Lusia lahir 20 Oktober 1970. Lusia ini lahir kembar tiga, merupakan keluarga pertama yang lahir kembar tiga di Bukit Karan. Namun dua kembarannya, semuanya perempuan, meninggal dunia beberapa hari setelah lahir. Ayah saya meninggal 19 April 1975 di Bukit Karan, Padang.

        Sewaktu saya berusia setahun, kami pindah dari Tabing ke Bukit Karan, Rawang Kecamatan Padang Selatan. Setahu saya mayoritas penduduk yang tinggal di Bukit Karan adalah orang Nias. Mereka beragama Kristen Protestan dan sebagian kecil ada yang Kristen Katolik. Mata pencaharian utama bertani. Sebagian lainnya bekerja sebagai kuli di Pelabuhan Teluk Bayur. Ayah saya selain bertani, beliau juga tercatat pegawai Jawatan Pelabuhan Teluk Bayur. Ayah mendapat pensiun dan sekarang masih diterima oleh ibu Sopan.

        Suatu hari ayah mengatakan kepada saya, bahwa saya akan masuk Sekolah Rakyat Negeri No. 16 di Teluk Bayur. Tapi ada syaratnya, yaitu untuk uang jajan, saya harus berjualan hasil kebun, seperti ketela singkong, pisang dan sayuran di pasar. Hal itu saya sanggupi asal sekolah. Saya masuk SR tahun 1959. Seingat saya, dulu itu sebulan masuk pagi sebulan masuk siang, berlangsung secara bergantian. Bila sekolah masuk pagi, saya berjualan di Teluk Bayur. Bila sekolah masuk siang, saya berjualan di Gaung. Berjualan hasil kebun ini saya jalani selama lima tahun, yaitu sampai klas V SR.

       Sebagai seorang yang masih anak-anak, saya juga bermain dengan teman-teman sebaya. Permainan yang saya suka antara lain, main layangan, main gundu dan lain-lain. Saya sendiri pandai membuat layangan yang berbentuk segi empat, di Padang disebut layang-layang “maco” dan layangan yang memakai ekor panjang, yang dikenal dengan nama layang-layang “darek”. Layang-layang darek ini bila sudah terbang tinggi, dia melenggang-lenggok di udara, enak dilihat. Saat yang baik bermain layangan adalah siang hari sampai sore.


Belajar agama Islam
       Saya terlahir dari keluarga yang percaya kepada arwah nenek moyang dan menyembah berhala (animisme). Sewaktu masih duduk di bangku SR, sebenarnya saya boleh keluar pada jam pelajaran Agama Islam. Namun saya memilih untuk mengikuti pelajaran agama Islam tersebut. Guru Agama Islam yang pertama saya kenal adalah bapak Syamsul Hidayat yang berasal dari Sicincin. Kemudian digantikan oleh ibu Siti Ramani yang berasal dari Koto Tangah. Kedua guru agama di SR No. 16 Teluk Bayur ini sangat saya kagumi. Bapak Syamsul Hidayat sangat piawai dalam bercerita. Sementara ibu Siti Ramani tidak kalah menariknya dalam mengajar, beliau mampu menyentuh hati murid-muridnya.

         Ada pengalaman tidak terlupakan saat ujian agama Islam di SR No. 16 Teluk Bayur. Saya sendiri tidak ikut ujian. Teman saya yang muslim minta tolong saya menjawab beberapa soal ujian agama Islam tersebut. Walaupun saya mengetahui jawabannya, saya tidak membantu teman tersebut. Karena hal ini menyalahi peraturan pelaksanaan ujian.

         Dari mengikuti pelajaran agama tersebut dan memperhatikan ummat Islam di sekitar, saya jadi tertarik dengan Islam. Bahkan saya yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya mengucapkan Dua Kalimat Syahadat pada hari Kamis 31 Desember 1964 bertepatan dengan 27 Sya’ban 1384H. Saat itu saya sudah  klas VI SR dan usia saya 12 tahun.

        Setelah masuk Islam, ada yang menyampaikan kepada saya, jangan tanggung-tanggung kalau masuk Islam, tetapi harus mendalami Islam itu. Beliau mengibaratkan buah manggis. Orang mengatakan manggis itu manis, lalu dimakan tanpa membuka kulitnya, maka terasan pahit. Seharusnya buah manggis itu dikupas dulu, kita akan melihat isinya yang putih bersih dan manis bila dimakan. Demikian juga Islam, bila tidak didalami, boleh jadi yang dirasakan repotnya beribadah, terkekang karena ada yang diharamkan. Akan tetapi bila didalami agama Islam itu, akan ditemukan indahnya Islam, manisnya iman, bahagianya mengamalkan ajaran Islam. Itulah sebabnya kemudian saya memutuskan masuk ke PGAN 6 Tahun Padang, kuliah di IAIN dan PTIQ.


Alasan masuk Islam

        Saya setuju dengan adik saya Eddy Ansori, ketika saya tanyakan mengapa dia masuk Islam? “Hidayah”, jawabnya singkat. Saya juga demikian, saya mendapat Hidayah Allah. Namun banyak orang menanyakan kepada saya prosesnya bagaimana?. Tentu ada hal-hal yang membuat tertarik dengan Islam. Pada awalnya dulu ada tiga hal, yaitu : Kisah Nabi Ibrahim as, keutamaan wudhu’dan shalat.

1.
Kisah Nabi Ibrahim.

Bapak Syamsul Hidayat sangat pandai bercerita. Salah satu cerita yang menarik perhatian saya adalah Kisah Nabi Ibrahim as. Dimulai dari Ibrahim mencari Tuhan sampai dengan menghancurkan tuhan Raja Namrudz. Semangat kisah tersebut tertanam di hati saya. Bodoh benar saya ini, masa menyembah berhala sesuatu yang dibuat manusia. Allah yang menciptakan kita, masa kita menyembah yang lain? Zat yang layak disembah adalah Allah Sang Pencipta. LAA ILAAHA ILLA LLAAH, tiada tuhan selain Allah. Keyakinan ini menancap dalam hatiku.


2.
Keutamamaan wudhu’.

Orang berwudhu itu bersih. Bersih itu sehat. Alangkah beruntungnya orang Islam, sebelum shalat dia berwudhu’ terlebih dahulu. Dan semakin menambah keyakinan saya terhadap Islam, di mana orang menemukan manfaat wudhu’ bagi manusia. Lihat http://www.akhbarislam.com/2013/07/manfaat-dan-rahasia-tersembunyi-dibalik.html

 Kalau digali lagi semakin ditemukan keutamaan-keutamaan ibadah dalam Islam. Subhaanallaah!

3.
Shalat.

SR No. 16 hari itu menyelenggarakan acara Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Penceramah Guru Agama Islam, Ibu Siti Ramani. Sebagaimana diketahui bahwa perintah mendirikan shalat diterima Nabi Muhammad SAW  pada saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Banyak yang diperlihatkan Allah kepada Nabi SAW dalam perjalanan tersebut, salah satunya adalah orang yang memukul-mukul kepalanya karena enggan shalat. Timbul rasa takut dalam hati saya mendengar cerita orang memukul-mukul kepala karena enggan shalat tersebut. Sehingga pada hari itu juga saya menyatakan keinginan saya masuk Islam kepada ibu Siti Ramani. 


Meninggalkan keluarga.

         Semenjak ibunda saya  meninggal tahun 1959, enam tahun lamanya saya tinggal bersama nenek Umi Gulö dan kakek Maun Zai, orang tua dari ibunda saya. Di saat usia saya 12 tahun, waktu itu saya sudah kelas VI SR, pada hari Kamis 31 Desember 1964 saya masuk Islam. Keinginan masuk Islam saya rahasiakan baik kepada ayahanda maupun kepada kakek dan nenek saya. Takut tidak diijinkan.  Saya pergi bersama guru agama saya ibu Siti Ramani ke Kantor Urusan Agama (KUA) di Jati Padang, kira-kira 8 KM jaraknya di Bukit Karan.  Saya ditemani  saudara sepupu, Seli Waruwu. Kami diterima pak Oejoen, petugas KUA dan saya dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.

         Usai acara pengislaman, saya kembali ke rumah kakek mengambil pakaian sehari-hari dan buku sekolah, lalu saya pergi ke rumah Adimar, teman sekolah yang mengajar saya shalat. Ayahnya bernama bapak Adel Mahyudin, pegawai Jawatan Kereta Api di Teluk Bayur. Sebulan lebih saya di sini, dari Ramadhan sampai ‘Idul Fithri 1384H.

        Karena ingin lebih dekat dengan rumah guru mengaji Ustadz Marsudin, saya pindah ke rumah teman saya yang lain, yaitu Irmansyah, anak dari bapak Idris Suki di Asrama Jawatan Pelabuhan Teluk Bayur yang terletak dekat jalan menuju Air Manis. Baik Adimar maupun Irmansyah, kami satu kelas di SR No. 16 Teluk Bayur. Beberapa bulan saya di sini, kemudian pindah ke Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur.

        Suatu hari ayah datang menemui saya di Masjid. Saya takut kalau beliau memarahi saya karena masuk Islam. Tetapi tidak. Malah beliau menyerahkan kain sarung untuk saya gunakan shalat. Alhamdulillah.  Beliau ketika itu masih seorang animis. Tiga tahun kemudian setelah saya masuk Islam, tahun 1967 ayah bersama keluarga besar lainnya masuk Kristen Katolik.


Jadi anak Muhammadiyah dan Aisyiah.

        Tamat SR saya masuk Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 6 Tahun Padang. Biaya sekolah dan makan sehari-hari  selama enam tahun saya di PGAN ditanggung Muhammadiyah dan Aisyiah Teluk Bayur. Saya sangat berutang budi dengan masyarakat muslim Teluk Bayur, khususnya yang tergabung dalam organisasi Muhammadiyah dan Aisyiah Teluk Bayur, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu di sini. Sehingga saya ini disebut anak Muhammadiyah dan Aisyiah.        
        Biaya sekolah dan pakaian diusahakan oleh bapak-bapak Muhammadiyah. Bapak A Kasim, beliau Ketua Muhammdiyah saat itu, paling rajin mengumpulkan infak untuk biaya sekolah dan pakaian saya. Adapun makan sehari-hari ditanggung secara bergilir oleh ibu-ibu Aisyiah. Misalnya bulan Januari saya makan di rumah ibu Darimin, bulan Pebruari di rumah ibu Jani Bonjol, bulan Maret di rumah ibu Yunibar, bulan April di rumah Aci Jalinus, bulan Mei di rumah ibu Jani Amir, dan seterusnya di tempat ibu-ibu lain secara bergantian.
        Sejak kelas I sampai klas V PGAN saya tinggal di Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur. Masuk kelas terakhir atau klas VI PGAN saya tinggal di rumah ibu Khadijah Zakaria, ibunda dari taci Syafiyeti Rasyad dan Lailawati Rasyad.  Saya dan Lailawati Rasyad sama-sama kelas VI PGAN sehingga kami bisa belajar bersama untuk menghadapi ujian akhir. Rumah ibu Khadijah Zakaria tidak jauh dari Masjid, hanya berjarak kira-kira 50 meter. Semenjak tinggal di rumah ibu Khadijah, makan saya tidak lagi pindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. 

Lima komitmen seorang muslim terhadap Islam.
       Dari pendidikan formal yang saya tempuh, tercatat 12 tahun belajar agama Islam, yaitu di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 6 Tahun Padang  selama enam tahun, di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta selama empat tahun dan di Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah Jambi selama dua tahun. Pendidikan umum saya tempuh sewaktu di Sekolah Rakyat (SR) di Teluk Bayur Padang dan Pascasarja S-2 Universitas Indonesia.
       Saya sangat sependapat dengan isi khutbah yang pernah disampaikan seorang khatib sekitar tahun 2006 di Masjid Al-Maghfirah PT Jamsostek (Persero) yang menyebutkan ada lima komitmen seorang muslim terhadap Islam, yaitu :

1.
Meyakini kebenaran Islam 100%.

Manusia adalah ciptaan Allah. Apa agama yang paling tepat untuk manusia? Tentu Dia yang paling mengetahui. Alhamdulillah, agama dimaksud sudah ditetapkan oleh Allah yaitu agama Islam. Karena Islam itu dari Allah, seorang muslim harus meyakini bahwa Islam ini benar 100%.

2.
Mendalami Islam.

Dari filosofi manggis yang diutarakan terdahulu, bahwa Islam itu harus dikupas, dipelajari, didalami, maka kita wajib mendalami Islam agar kita mengetahui Islam sampai ke isinya, tidak hanya kulit. Kalau kita hanya belajar kulit, boleh jadi kita merasakan Islam ini agama yang merepotkan, agama yang berat dan sebagainya. Saya merasa beruntung dapat belajar agama Islam secara formal selama 12 tahun. Jujur saya sampaikan, bahwa ilmu yang saya peroleh tentang Islam masih sangat dangkal. Namun dari yang dangkal ini, hati saya semakin mantap memilih Islam sebagai agama saya. Saya bahagia menjadi seorang muslim.
3.
Mengamalkan Islam secara kaffah.

Bapak HS Djurtatap, tetatangga saya di Serpong, beliau seorang wartawan Harian Pelita dan juga seorang penyair. Saya tertarik dengan uraian beliau saat menyampaikan kuliah tujuh menit “kultum” di Masjid Al-Ihsan Komplek Astek Serpong. Ummat Islam itu harus mengamalkan Islam itu secara kaffah, utuh, total. Beliau mengibaratkannya seumpama cengkeh, yang mana bunganya, daunnya, kulitnya, batangnya dan sampai ke akarnya, aromanya menunjukkan aroma cengkeh. Memang yang dominan pada bunganya. Tetapi bila kita cium daunnya, kita dapat mengatakan ini daun cengkeh. Beda dengan duren. Buahnya dari kejauhan sudah tercium bau duren. Tetapi tidak demikian dengan daunnya, tidak ada bau duren sedikitpun.

Maksud dari perumpamaan ini adalah kalau kita mengaku seorang muslim maka amal perbuatan kita seluruhnya berdasarkan Islam. Jangan mengaku muslim, tetapi perbuatannya tidak Islami.

4.
Mendakwahkan Islam

Ajaran Islam yang demikian indah ini harus disebar-luaskan. Untuk itu perlu dipersiapkan organisasi dakwah yang baik. Jangan sampai ada orang tertarik dengan Islam, kemudian disuruh dia mengucapkan Dua Kalimat Syahidat, tetapi sesudah itu dilepas, tidak ada bimbingan sama sekali. Orang yang tidak mendapat bimbingan Islam secara sempurna, maka dia merasakan Islam itu bagaikan kulit manggis yang pahit. Dia bisa kembali ke agama sebelumnya dan ikut menjelek-jelekan Islam.

5.
Membela Islam.

Orang yang merasakan indahnya Islam, manisnya iman, maka dia akan membela Islam tersebut. Dia akan mengorbankan harta bendanya, bahkan jiwanya guna mencari Ridho Allah.


Kehidupan saya dimudahkan Allah.

        Ada kekhawatiran karena tidak lagi bersama orang tua, maka pendidikan saya terganggu, masa depan tidak jelas, dan sebagainya. Namun Alhamdulillah tidak demikian. Ada jalan kemudahan yang diberikan Allah. Saudara sesama muslim membantu saya dengan ikhlas. Saya bisa menyelesaikan pendidikan sampai S-2, sebagian dapat bea siswa. Bekerja di PT Jamsostek (Persero) sebuah BUMN yang besar yang kini menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Setelah pensiun ada yang mengajak untuk mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan Universitas Al-Azhar Indonesia. Bukan itu saja, diberi pula amanah menjadi Direktur Utama (2008 - 2013) di As-Salam Travel, Biro Perjalanan Umroh.

        Kehidupan rumah tangga saya dengan Noverlemi Paraman, sejak menikah 17 Maret 1977 sampai sekarang, relatif aman. Semoga berlanjut sampai akhir hayat dan bisa berkumpul kelak di Surga. Allah karuniai tiga orang anak yang sehat, satu perempuan bernama Ulfah Yusuf dan dua laki-laki, yaitu Luthfi Yusuf dan Ihsan Yusuf. Ulfah dan Luthfi sudah berumah tangga. Allah tambah lagi karunia itu dengan empat cucu. Kami ada rumah tempat istirahat di Serpong dan ada pula kendaraan untuk bepergian. Saya utarakan ini dalam rangka tahaduts binni'mah.

        Sungguh saya bersyukur menjadi seorang muslim. Saya merasakan kebahagiaan lahir batin. Saya berdo’a kepada Allah kiranya Allah menolong saya hingga akhir hidup dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin!

Hati terpanggil untuk Nias.
           Bila ada yang bertanya, saya selalu mengatakan bahwa saya orang Nias. Karena memang ayah bunda saya adalah orang Nias. Kemudian saya jelaskan bahwa saya lahir di Padang. Ayah bunda saya juga lahir di Padang. Kakek saya Suwökhi Lömbu  yang asli dari Nias, berasal dari Desa Sogaeadu, Kecamatan Gidö, Gunung Sitoli, Nias. Walau mengaku orang Nias, baru pada usia 54 tahun, tepatnya hari Jum’at tanggal 14 April 2006 saya pertama kali menginjakan kaki di Nias (Tanö Niha), setahun setelah gempa dahsyat yang terjadi tanggal 28 Maret 2005.
         Ada orang Nias yang saya kenal, sudah seperti kakak sendiri, namanya Bassir Tanjung’s. Kami berkenalan sewaktu saya kuliah di PTIQ di Jakarta. Beliau dinas di POLRI dan tinggal di Asrama SEKOPPOL Pasar Jumat tidak jauh dari Kampus PTIQ. Beliaulah yang menemani saya ke Nias. Saat itu beliau sudah pensiun dan tinggal di Komplek POLDA, Jalan Flamboyan I Blok A No. 4, Tanjung Selamat Medan. Selama di Nias, saya dibawa melihat masjid-masjid dan mushalla yang runtuh di sekitar Kota Gunung Sitoli. Kemudian saya dibawa ke Sogaeadu, Kecamatan Gidö daerah asal kakek saya. Di Sogaeadu yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, saya jumpai Masjid Jami’ Al-Furqan. Ummat Islam di Soageadu ada 12 kepala keluarga, itupun sebagian ada yang hijrah akibat peristiwa gempa.
        Ummat Islam di Nias meminta  agar saya dan siapapun yang peduli untuk menyampaikan  kepada masyarakat muslim Nias di rantau dan ummat Islam di manapun berada, untuk mengirim zakat, infaq dan sedekah (ZIS) guna membangun Masjid dan Mushalla yang runtuh akibat gempa di Nias. Masjid dan Mushalla di seluruh Nias tercatat sebanyak 154 unit, yang rusak parah 32 unit dan rusak ringan 45. Beberapa di antara yang rusak parah adalah Masjid Raya Al-Furqan, Mushalla Madrasah Islamiyah, Masjid Al-Falah Tohia, Masjid Taqwa Desa Boyo, Masjid Saombo dan lain-lain.
       Berangkat dari lima komitmen seorang muslim terhadap Islam di atas, kemudian memperhatikan kondisi masjid dan mushalla yang rusak, hati saya terpanggil untuk Nias.  Saya menyadari keterbatasan saya, namun kalau dihadapi bersama-sama, Insya Allah pekerjaan berat menjadi ringan. Permintaan ummat Islam Nias ini saya bicarakan dengan sesepuh masyarakat muslim Nias di Jakarta. Dicapai kesepakatan untuk membentuk sebuah Yayasan yang diberi nama Yayasan Peduli Muslim Nias (YPMN). Untuk menindak lanjuti hal tersebut dilangsungkan pertemuan di kantor tempat saya bekerja (Dana Pensiun Karyawan Jamsostek di Jakarta) pada tanggal 6 Oktober 2006. Maka berdirilah YPMN dituangkan Akta Notaris : Drs. H.A. Taufiqurrahman S, SH, Nomor : 2, tanggal 6 Oktober 2006. YPMN ini disahkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Nomor : C-2708.HT.01.02.TH 2006 dan dimuat dalam Tambahan Berita Negara RI tanggal 29/8-2008 No. 70. Ketua Pembina : Bapak Haji M Danial Tanjung. Ketua Pengawas : Bapak Drs Haji SW. Hilal Alqudus. Ketua Pengurus : Haji M Yusuf Sisus.
       YPMN berusaha menggalang dana kemudian dikirim ke Nias, dibagikan untuk beberapa masjid dan mushalla. Dana yang dibagikan tersebut tidak memadai untuk membangun atau memperbaiki masjid mushalla yang rusak. Dana yang dibagi-bagikan tersebut berkisar antara Rp 2,5 juta sampai Rp 15 juta per masjid dan mushalla. Sebenarnya untuk pembangunan kembali rumah-rumah ibadah di Nias sangat diharapkan dari bantuan dana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR). Namun selain dana BRR itu diutamakan untuk perbaikan  infra struktur dan rumah-rumah yang rusak, jumlah yang diberikan untuk rumah-rumah ibadah tidak memadai untuk membangun kembali rumah-rumah ibadah yang berskala besar, seperti Masjid Raya Al-Furqan yang terletak dekat rumah Dinas Bupati dan Pasar Gunung Sitoli.
        Ada juga masjid yang langsung dibangun di mana dananya sudah tersedia. Masjid Agung Teluk Dalam dibangun dengan dana yang terkumpul dari Pembaca Pikiran Rakyat Bandung.. Masjid Agung Kabupaten Nias dibangun dengan dana bantuan Internasional. Masjid Al-Falah Tohia Gunung Sitoli dibangun dari sumbangan pegawai Bank Indonesia.

YPMN bersinnergi dengan Al-Azhar Peduli Ummat.

        Dari tahun 2006 sampai 2007 YPMN mencoba menggalang dana, mengirim proposal ke Kantor-Kantor Pemerintah dan BUMN, mengunjungi beberapa masjid di Jakarta, dana yang terkumpul sekitar Rp 300 juta. Jumlah tersebut setelah digabung dengan uang yang terkumpul di Nias.  Dana yang terkumpul dari infaq setiap Jum’at dan hari-hari lain di Masjid Al-Furqan, rata-rata Rp 1 juta seminggu atau atau Rp 4 juta sebulan. Sulit untuk membangun  Masjid Raya Al-Furqan dengan uang sebesar itu. Tanggal 30 Januari 2009 tercapai kesepakatan antara YPMN dan LAZ Al-Azhar bersinnergi menggalang dana untuk Masjid Al-Furqan Nias.
      Menurut rencana Masjid ini akan dibangun 2.5 lantai di atas tanah seluas 1.682 M², yang dapat menampung 800 jamaah. Bentuk bangunan Masjid Al-Furqan Nias mengambil nuansa Masjid Quba’ di Madinah. Hai ini tercermin dari warnanya yang putih dan dua buah menara tinggi di depan debelah kiri kanan mihrab. Juga meniru  Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, yaitu lantai atas untuk shalat lima waktu dan lantai bawah untuk ruang serbaguna.  Konstruksi bangunan masjid ini dibuat tahan gempa. Selain itu juga anti karat agar tak mudah rusak kena air garam, mengingat lokasinya di pinggir pantai.

        Peletakan batu pertama pembangunan kembali Masjid Raya Al-Furqan dilaksanakan pada 8 Agustus 2009 oleh Bapak Afif Hamka dari LAZ Al-Azhar dan Bapak Binahati B. Baeha selaku Bupati Nias. Kontraktor Pelaksana PT Moelia Graha Estetika yang dipimpin oleh Bapak Masyuri Kurniawan.  Dana yang masuk di YPMN dan LAZ Al-Azhar (untuk Al-Furqan) tidak seimbang dengan dana yang diperlukan. Menjelang akhir tahun 2009 pembangunan Masjid Al-Furqan terhenti di tengah jalan, karena tidak ada dana.

        Setahun lebih pembangunan Masjid Al-Furqan terlantar. Kondisinya menyedihkan, halaman ditumbuhi semak-semak, besi berkarat dan temboknya retak-retak. Sudah diusahakan mencari dana kemana-mana, termasuk menghubungi Pemda Sumatera Utara, hasilnya tidak seberapa. Alhamdulillah, Selasa 04 Oktober 2011, Bapak Haji Hanif seorang pengusaha muslim dari Medan sengaja datang ke Nias menyerahkan infaq sebesar Rp 500.000.000,-  LAZ Al-Azhar mengucurkan dana Rp 200 juta. YPMN Rp 100 juta. Ditambah saldo dana yang ada pada Panitia Pembangunan Masjid Al-Furqan di Nias. Maka pembangunan Masjid Al-Furqan dilanjutkan kembali.
        Harga matrial naik dan harga di Nias lebih mahal dari harga di kota-kota seperti Medan, karena diperhitungkan ongkos angkut. Sementara dana yang masuk semakin seret. Memperhatikan kondisi penggalangan dana yang tidak mendukung, maka Rapat YPMN dengan LAZ Al-Azhar pada 24 Mei 2012 memutuskan bahwa Kepanitiaan Pembangunan Masjid Raya Al Furqan Nias adalah wewenang penuh dari Kenaziran Masjid Raya Al Furqan. Kewenangan ini mencakup perubahan disain, RAB dan pelaksanaan pekerjaan pembangunan fisik masjid. Semenjak itu pembangunan Masjid Al-Furqan terhenti kembali.

Ustadz Yusuf Mansur ke Nias.
        Penggalangan dana dilanjutkan oleh Yayasan Rumah Infaq yang dipimpin oleh Ustadz Yusman Dawölö. Ustadz muda alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammad Nasir berusaha melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara yang halal. Pengusaha bekam yang sedang naik daun ini berhasil mengajak Ustadz Yusuf Mansur untuk mengisi Tabligh Akbar dalam rangka menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1436H. Tanggal 8 Nopember 2014 Ustadz Yusuf Mansur, ustadz M Anwar Sani, M Yusuf Sisus, ustadz Yusman Dawölö disertai dua orang anggota Tim Yayasan Rumah Infaq berangkat ke Nias. Malam harinya dilaksanakan Tabligh Akbar di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli dengan pembicara tunggal Ustadz Yusuf Mansur.  Malam itu terkumpul infak, gabungan dari perhiasan mas dan uang sebesar Rp 100 juta.
        Saya mempunyai hitung-hitungan seperti di bawah ini. Penduduk Kota Gunung Sitoli ada 100.000 jiwa. Bila diasumsikan yang muslim 10% (mungkin lebih besar dar itu) dan mau berinfak untuk Masjid Al-Furqan sebesar Rp 1.000 setiap hari, maka dalam setahun Insya Allah terkumpul infak sebesar 10.000 jiwa x Rp 1.000,- x 365 hari = Rp 3,65 miliar.
        Semoga terwujud Masjid Raya Al-Furqan Kota Gunung Sitoli yang kokoh dan indah.

Pesan saya kepada generasi muda.
       Cobaan dan godaan di akhir zaman ini semakin hebat. Bila keimanan tidak kuat, maka seseorang itu bisa rontok, jatuh ke lembah nista. Padahal kehidupan di dunia ini hanya sebentar. Kita akan kembali menghadap Sang Pencipta, Allah SWT. Oleh karena itu, pergunakanlah masa muda ini untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, di samping ilmu umum, jangan lupa mendalami agama serta mengamalkannya. Agar selamat di dunia dan di akhirat.
 ----------------------------------------------------------oOo------------------------------------------------------------      
Keluarga
Buyung Lava Lömbu dan Upik Zai, dikarunia anak empat orang, yaitu :

        1. M Yusuf Sisus (Islam 31/12/1964 di Padang)
        2. Uwin (meninggal dalam usia empat tahun)
        3. Yusna (Katholik)
        4. Eddy (Islam 29 Juli 1983 di Jakarta)
Buyung Lava Lömbu dan Sopan Dohare, dikarunia anak empat orang, yaitu :

       1. Ingin (Katholik)
       2. Lusia (Katholik)
       3. Kamba Rami (meninggal dlm usia sehari)
       4. Kamba Ati (meninggal dlm usia sehari)

Saya menikah tanggal 17 Maret 1977 dengan Noverlemi Paraman asal Cupak Solok Sumatera Barat, dikarunia anak tiga orang :

       1. Ulfah Yusuf (lahir 01 Juni 1979 di Jakarta)
       2. Luthfi Yusuf (lahir 23 Juni 1982 di Jakarta)
       3. Ihsan Yusuf (lahir 18 Mei 1987 di Jakarta)

Ulfah Yusuf dan Luthfi Yusuf sudah berumah tangga, masing-masing mempunyai dua orang anak, atau saya sudah mempunyai  empat orang cucu, yaitu :

       1. Khairunnisa (lahir 05 Agustus 2004)
       2. Wardah Al-Humairah (lahir 09 April 2006)
       3. Delisha (lahir 17 Desember 2012)
       4. Muhammad Faisal Amin (lahir 22 Maret 2014)

Cucu nomor 2 dan 4 adalah anak Ulfah Yusuf, sedang nomor 1 dan 3 adalah anak Luthfi Yusuf.
Domisili
1.
1952 - 1953
Parupuk, Tabing, Padang

2.
1953 - 1964
Bukit Karan, Kec. Padang Selatan, Padang

3.
1965 - 1972
Teluk Bayur, Padang
a.       Rumah bapak Adel Mahyuddin (1965)
b.      Rumah bapak Idris Suki (1965)
c.       Masjid Muhammadiyah (1966 – 1970)
d.      Rumah Ibu Khadijah Zakaria (1971 – 1972)

3.
1972 - 1976
Kampus PTIQ, Pasar Jum’at Jakarta

4.
1976
Rumah bapak A. Bidawi Zubir di Tebet, Jakarta Selatan

5.
1976 - 1981
Rumah bapak Arief Soehardjo di  Cempaka Putih, Jakarta Pusat

6.
1982 - 1984
Pondok Gede, Bekasi

7.
1984 - sekarang
Serpong, Tangerang, Banten







Tanggal-tanggal penting
1.
11 Oktober 1952
Saya lahir di Parupuk, Tabing, Padang

2.
31 Desember 1964
Masuk Islam di Padang

3.
17 Maret 1977
Menikah dengan Noverlemi Paraman

4.
01 Juni 1979
Mulai bekerja di Perum Astek (Jamsostek, sekarang BPJS Ketenagakerjaan)

5.
01 Juni 1979
Anak pertama lahir, diberi nama Ulfah Yusuf

6.
14 April 2006
Pertama kali mengunjungi  Nias (tanah leluhur)

7.
01 Nopember 2008
Pensiun dari PT Jamsostek (Persero)


Pendidikan
1.
1959 - 1965
Sekolah Rakyat (SR) No. 16 Teluk Bayur, Padang

2.
1965 – 1971 (bea siswa)
Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN)  6 Tahun Padang

3.
1972 – 1976 (bea siswa)
Fakultas Ushuluddin Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) di Jakarta

4.
1993 - 1995
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammadiyah di Jambi

5.
1996 – 1998 (bea siswa)
Paca Sarjana (S-2) FISIP Universitas Indonesia (UI) di  Jakarta


Pekerjaan
1.
1976 - 1979
Perpustakaan Islam Yayasan Pendidikan Al-Qur’an (YPA) di Jakarta.

2.
1979 - 2004
PT Jamsostek (Persero)

3.
2004 - 2008
Dirut Dana Pensiun Karyawan Jamsostek

4.
2007 - sekarang
Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) di Jakarta

5.
2007 - sekarang
Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta

6.
2008 - 2013
Dirut PT As-Salam Mulya Al-Haromain (Biro Perjalanan Umroh) di Jakarta

7.
2013 - sekarang
Komisaris PT As-Salam Mulya Al-Haromain (Biro Perjalanan Umroh) di Jakarta








Pertama kali ke Nias, 14 April 2006.
Saya dan uda Nasroul Hamzah (YPI) bertemu Bupati Nias, bapak Binahati B. Baeha.


Peletakan Batu Pertama Masjid Al-Furqan oleh bapak Afif Hamka (YPI) dan Bupati Nias.
Bersama Ustadz Yusuf Mansur dan Kepala Kantor Kemenag Gunung Sitoli melihat Masjid Al-Furqan yang terbengkalai.
Bersama isteri tercinta Noverlemi Paraman dan cucu nomor empat Muhammad Faisal Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH SINGKAT MASJID AL-FURQAN GUNUNG SITOLI NIAS

MENGENANG QARI INTERNASIONAL “HAJI MIRWAN BATUBARA”

PEMBANGUNAN MASJID RAYA AL-FURQAN GUNUNG SITOLI HAMPIR SELESAI.